Media TK Sentra

Sekolah Unggulan Masyarakat Dhuafa

Oleh Yudhistira ANM Massardi

Dalam pembelajaran dengan Metode Sentra di sekolah kami, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi, pembangunan karakter dan kecerdasan anak diselenggarakan melalui tiga jenis main (Charles H. Wolfgang). Yakni, main sensorimotor atau fungsional; main peran (besar dan kecil); dan main pembangunan (sifat cair dan terstruktur).

Main sensorimotor mengoptimalkan dan mengeksplorasi panca indera, agar anak bisa mencerdaskan dan memahami fungsi seluruh indera di tubuhnya. Dengan itulah kelak mereka akan menghadapi dunia.

Main peran besar adalah pengenalan awal terhadap konsep, aturan dan keanekaragaman profesi yang ada dalam kehidupan manusia. Anak bermain sebagai orang dewasa (ayah, ibu, dokter dan sebagainya) menggunakan alat dengan ukuran sebenarnya. Adapun dalam main peran kecil, anak bertindak sebagai pemimpin (sutradara/dalang), menggunakan alat-alat main berukuran kecil (miniatur). Di sini, anak belajar tentang perencanaan dan pemecahan masalah.

Main pembangunan adalah kesempatan dan rangsangan bagi anak untuk kerja membangun gagasan dan mewujudkannya dengan menggunakan beberapa media. Ada dua jenis media: yang bersifat cair (cat, krayon, spidol, playdough, air); dan media yang terstruktur (balok unit, lego).

Konsep “bermain sambil belajar” untuk anak usia dini, pada dasarnya bertujuan memberikan pengenalan dan pemahaman sederhana tentang konsep-konsep kehidupan, sehingga kelak anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan, kalau mungkin, melakukan perubahan terhadapnya, agar kualitas kehidupan menjadi lebih baik.

Seluruh proses main tersebut, dengan rangsangan dan pendampingan oleh guru, diarahkan untuk membangun kemampuan anak dalam menyerap pengetahuan (knowledge), sekaligus membangun kemampuan anak untuk menuangkan isi hati dan pikiran, secara lisan maupun kongkret, melalui gambar, bentuk, warna dan ukuran.

Dalam proses itu, secara umum, anak akan memasuki sentra bermain sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing. Mulai dari tahapan tidak peduli, penonton, main sendiri (soliter), main berdampingan, main bersama, dan main bekerjasama dengan teman.

Sebelum kegiatan sekolah dimulai, artinya sebelum anak-anak melakukan main dengan aturan dalam sentra-sentra (Sentra Persiapan, Sentra Balok, Sentra Main Peran, Sentra Seni, Sentra Bahan Alam dan Sentra Imtaq), anak-anak melakukan main bebas (senam/gerak badan) terlebih dahulu. Tujuannya, agar energi mereka yang berlimpah, berkurang sebagian. Sehingga, ketika kegiatan sentra dimulai, mereka bisa menjadi lebih tenang.

Reformasi
Secara umum, kondisi bangsa kita sekarang ini, masih berada dalam “tahapan main” anak usia dini. Sebagian masih belum selesai melewati masa toddler-nya (1-3 tahun). Jadi, jika dilihat melalui perspektif Metode Sentra yang diselenggarakan untuk anak-anak usia 0-7 tahun, sesungguhnya kondisi bangsa kita sekarang ini “normal” belaka.

Fakta bahwa kita sudah 67 tahun merdeka, dan sudah dipimpin oleh enam presiden, terbukti tidak bisa mengantarkan seluruh bangsa tumbuh menuju tahapan perkembangan yang lebih tinggi. Usia kronologisnya tidak berkembang sesuai dengan tahapan biologisnya, seperti yang dikatakan oleh sebuah ungkapan: “Umur dan pengetahuan (kematangan) tidak selalu datang bersama. Terkadang Anda hanya mendapatkan umurnya saja.”

Reformasi politik 1998, bagaikan kondisi ketika anak-anak secara mendadak ditinggal pergi orangtuanya yang otoriter. Anak-anak bangsa yang kehilangan induk itu – sebagian sedih, sebagian gembira, sebagian besar kebingungan – tiba-tiba berada di sebuah lapangan bermain yang luas. Reaksi pertama adalah sorak-sorai menyambut kebebasan (“fase main bebas”). Seperti anak-anak di TK, sebagian segera siap untuk main dengan aturan (Sentra), sebagian masih merasa belum siap, maunya main bebas terus hingga sekarang.

Pemilu hingga pelantikan para pemenang (di eksekutif, legislatif maupun yudikatif) adalah “fase main peran besar dan peran kecil.” Namun, setiap Sentra punya prosedur kerja yang ketat yang harus diikuti sesuai urutan. Misalnya, pertama memilih teman, lalu memilih pekerjaan, kemudian kerja fokus dan tuntas, sesudah itu melaporkan hasil kerja, dan kemudian beres-beres merapikan kembali kelas dan membuang sampah pada tempatnya.

Tomcat
Dalam Metode Sentra, setiap (kelompok) anak tiap hari bermain di sentra yang berbeda (moving class) agar karakter, budi pekerti dan kecerdasan jamaknya terbangun secara serentak dan seimbang. Sementara, anak-anak reformasi yang kemudian menjadi gerombolan pempimpin di negeri ini, langsung dan hanya main di “Sentra Main Peran.” Itu pun, celakanya, tanpa ada guru pendamping yang menegakkan prosedur kerja. Akibatnya, karakter, budi pekerti dan kecerdasan jamak mereka tidak terbangun.

Mereka tidak melewati Sentra Balok sehingga tidak bisa membangun dalam presisi/akurasi. Mereka tidak melewati Sentra Seni sehingga tidak kreatif, adabnya kasar, hatinya jadi sarang tomcat. Mereka tidak melewati Sentra Imtaq sehingga akhlaknya buruk karena agama berhenti hanya sebatas ritual dan hafalan tanpa pemaknaan. Dan seterusnya.

Semua kekosongan itu, menjadi bertambah parah karena sebagian besar masih berada dalam tahapan perkembangan toddler, dengan ciri-ciri: merasa seluruh dunia adalah miliknya, senang menarik barang ke luar dari laci, menggunakan tangan dan mulut untuk belajar, suka mencoba menggigit orang, belum siap main dengan anak lain, berpindah – pindah secara cepat, tidak suka berbagi, banyak menggunakan kata “tidak,” sering marah dan teriak, sulit bergantian dalam bercakap, sering mengubah topik, puas main dengan diri sendiri, mendorong, memukul, menangis jika tidak senang dengan keadaan, menggunakan popok di malam hari, suka mengisap ibu jari, dan senang berlari–lari tanpa busana.

Itulah kondisi bangsa kita hari ini. Itulah sebabnya, sistem pendidikan nasional harus lebih mengedepankan pendidikan anak usia dini. Hanya dengan menempuh jalan itu, kita bisa lebih siap untuk tumbuh ke tahapan berikutnya: menjadi bangsa yang lebih dewasa. Menjadi bangsa yang siap menuju tahapan bermain dengan aturan.[] (Koran TEMPO 14 April 2012)

*Yudhistira ANM Massardi adalah sastrawan, wartawan, pengelola sekolah gratis untuk dhuafa TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi.

Views: 304

Attachments:

Reply to This

 

 

 

Microsoft Store

 

 

Armani

Barack Obama DVD

160x600_photos_dark_1.gif

SKECHERS

 

 

TriCityNewBalance.com (Southern Sports LLC)


© 2014   Created by didi.   Powered by

Report an Issue  |  Terms of Service