Media TK Sentra

Sekolah Unggulan Masyarakat Dhuafa

Oleh: Yudhistira ANM Massardi

 

“Sejak tahun-tahun pertama hidupnya, anak-anak harus ambil bagian dalam bentuk permainan yang beraturan, karena jika mereka tidak dilingkungi atmosfer seperti itu, mereka tidak akan pernah bisa tumbuh menjadi warga negara yang berbudi pekerti luhur.” – Plato, Republic.


Inti pesan dari filsuf besar Yunani (427 SM-347 SM) itu adalah: isi penuh masa kanak-kanak dengan main. Hanya dengan begitu, maka anak bisa tumbuh menjadi manusia ideal: cerdas, berkarakter, berakhlak mulia.

 

Para sarjana peneliti perkembangan otak dan anak, misalnya Bloom Lois Masket (2003), setelah melakukan penelitian tentang kebahasaan anak, menyatakan: Separuh perkembangan intelektual anak berlangsung sebelum usia empat tahun. Pakar nutrisi otak, Landshears (2004) merinci: Perkembangan kognitif manusia usia 17 tahun merupakan akumulasi dari perkembangan otak sejak usia 0-4 tahun (50%), usia 4-8 tahun (30%) dan usia 9-17 tahun (20%).

 

Psikolog Sara Smilansky (1990) menemukan bukti bahwa main adalah media alamiah bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh dan berkembang. Main memenuhi kebutuhan anak-anak untuk bereksplorasi, menemukan, mencoba berbagai peran, berhubungan dengan orang lain, dan melatih kreativitas. Lev Semyonovich Vygotsky (2002) menegaskan: Main adalah sumber perkembangan utama. Anak mengalami kemajuan secara esensial melalui aktivitas bermain.

 

Psikolog Jean Piaget menyatakan, melalui main, anak bisa menemukan sendiri ilmu pengetahuan yang akan menjadi konsep permanen bagi kehidupannya kelak. Dalam teori Piaget, pengetahuan bukan sesuatu yang dicurahkan ke anak dari sumber eksternal, tapi sesuatu yang harus dibangun dan ditemukannya sendiri.

 

Secara garis besar, seperti dirangkum ahli pendidikan anak usia dini Charles H. Wolfgang, ada tiga jenis main. Ketiga jenis main itulah yang kemudian dieksplorasi  oleh Pamela Phelps di dalam aneka Sentra dalam pembelajaran melalui Metode Sentra. Ketiga jenis main itu adalah:  Main Sensorimotor atau Fungsional, Main Peran atau Main Simbolik (meliputi main peran besar dan main peran kecil), dan Main Pembangunan (meliputi main yang bersifat cair dan main terstruktur seperti balok).

 

Intinya adalah: usia 0-8 tahun merupakan tahap paling penting dalam pertumbuhan otak, jiwa, kecerdasan, dan karakter anak. Itulah periode yang disebut sebagai “Golden Age (Usia Emas).”

                                                          *

 

Dengan semakin kukuhnya pemahaman dan bukti-bukti tentang pentingnya usia 0-8 tahun, maka masa depan seorang anak atau sebuah bangsa, sangat ditentukan oleh jumlah dan mutu main yang dijalani oleh generasi Usia Emas-nya. Itu artinya, para orangtua dan guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) memiliki peran penentu dalam pembangunan kecerdasan dan karakter anak.

 

Untuk itu, mereka harus menyediakan waktu yang banyak dan aneka jenis serta alat-alat main yang membangun, berikut asupan pengetahuan yang menyertainya. Dalam dimensi intelektual, bisa dikatakan, para orangtua dan guru-guru PAUD-lah yang menentukan: apakah seorang anak kelak akan hidup sukses atau hanya menjadi parasit bagi keluarga dan lingkungannya.

                                                          *

Namun, betapa banyak orangtua yang mengabaikan hal itu. Mereka memaksakan kehendak, dengan menekan pihak sekolah dan guru, untuk menjadikan anak-anak mereka pandai baca,  tulis, hitung, dan bahkan berbahasa Inggris, sejak dari PAUD – suatu hal yang juga dituntut oleh pengelola SD. Akibatnya, Usia  Emas bukan menjadi tahapan main dengan bahagia, melainkan menjadi masa penuh tekanan dan paksaan, sehingga anak terdzolimi oleh ambisi para orangtua dan pengurus sekolahnya sendiri.

 

Penyelenggaraan pendidikan di negeri ini sungguh salah arah. Jika tidak segera dilakukan revolusi dalam sistem pendidikan nasional, maka bangsa Indonesia akan semakin dalam terbenam di kubangan kebodohan, kemiskinan, pengangguran, dan kemerosotan akhlak.

 

Koreksi mendasar harus dilakukan pemerintah. Pertama, dalam hal konsep “wajib belajar 12 tahun.” Itu seharusnya tidak dimulai dari tingkat SD, melainkan sejak “Usia  Emas” (sekurang-kurangnya sejak usia 4 tahun), hingga tamat SMP.

 

Kedua, mengingat begitu strategisnya posisi PAUD, pemerintah harus menempatkan para sarjana untuk menjadi guru-guru PAUD, dan memberikan gaji yang sama atau lebih tinggi dari guru-guru di tingkat lanjut.

 

Ketiga, “kembalikan” tanah-tanah lapang di setiap RW/Kelurahan untuk arena bermain bebas anak-anak. Sehingga, terutama di kota-kota besar, anak-anak tidak kelayapan di mal-mal, atau tidak berkurung diri di dalam kamar hanya menonton televisi atau bermain video games/internet, yang akan mengakibatkan ketumpulan sensorimotor dan kinestetik, serta kelumpuhan sosial-emosi anak![] (GATRA, 21 April 2011)

 

*Penulis adalah sastrawan/wartawan, pengelola sekolah gratis untuk dhuafa TK-SD Batutis Al-Ilmi di Bekasi. 

Views: 174

Reply to This

 

 

 

Microsoft Store

 

 

Armani

Barack Obama DVD

160x600_photos_dark_1.gif

SKECHERS

 

 

TriCityNewBalance.com (Southern Sports LLC)


© 2014   Created by didi.   Powered by

Report an Issue  |  Terms of Service